Alasan Tak Perlu Pamer Harta Orangtua, Toh Sukses Dinilai Dari Prestasi yang Kamu Punya

Tumbuh besar di tengah-tengah keluarga serba berkecukupan memang merupakan sebuah keberuntungan. Apapun yang diinginkan pasti dapat tercukupi dan terpenuhi dengan baik dan mudah. Namun hal itu membuatmu menjadi malas dan manja karena tak perlu repot-repot bekerja dan memikirkan urusan materi. Sekolah ya tinggal sekolah, tak perlu kerja sambilan demi dapat tambahan uang jajan, atau syukur-syukur bisa bantu membiayai sekolahmu sendiri.

Tapi kadang ada dari kamu yang menganggap harta orangtua yang bercukupan ini sesuatu yang bisa diperlihatkan ke orang-orang. Caranya sudah jelas bermacam-macam, bisa dengan pamer barang yang kamu miliki, bisa juga dengan kebiasanmu. Apapun itu satu hal juga yang perlu kamu ingat baik-baik lagi, jika yang ada di depan matamu ini bukan sepenuhnya milikmu. Itu murni hanya punya orangtuamu saja.

1. Buat apa merasa mapan materi, kalau itu bukan jerih payah dirimu sendiri

Hidupmu memang serba berkecukupan. Kamu bisa makan enak, mengikuti trend yang ada entah penampilan atau teknologi. Bahkan uang di dompet serta tabunganmu saja tak pernah sampai kosong atau habis. Tapi apalah arti kemapanan yang semacam itu, kalau semua didapat dari hasil meminta orangtua. Sedikit-sedikit, “Bu, Pak, minta uang,”. Kadang kamu sendiri masih suka tipu-tipu saat meminta uang ke orangtua. Bilangnya buat bayar keperluan kuliah, tapi ternyata buat jajan dan main-main saja.

Apa ini yang disebut mapan materi?

2. Semakin membanggakannya, semakin terlihat betapa malasnya kamu yang bergantung ke harta orangtua saja

Ganti ponsel bilang ke teman-teman. Bawa mobil baru pun dengan bangganya pamer kemana-mana. Abis jalan-jalan ke luar negeri saja hampir setiap orang pasti diceritakan. Sementara semua kesenangan itu murni hasil minta dari orangtua. Bukankah sikapmu ini hanya memperlihatkan kemalasanmu saja. Kamu tahunya hanya besenang-senang tanpa paham cari uang itu susah. Sementara di luar sana sudah banyak anak muda yang rela kerja part-time atau jadi freelancer demi uang jajan tambahan.

Mau sampai kapan kamu menggantungkan diri saja pada harta orangtua?

 3. Toh pamermu ini sebenarnya kesia-siaan, sebab harta orangtuamu lebih sering kamu hamburkan daripada dijaga

Sebenarnya tak masalah jika kamu memamerkan harta orangtua lewat kehematanmu. Penilaian yang timbul pun pastinya positif. Tapi bagaimana kalau kamu memamerkannya dengan menghamburkan-hamburkan uang. Kamu pamer lewat barang-barang mewah yang kamu belanjakan. Lewat kegiatan nongkrong berjam-jam di kafe fancy bersama teman. Bukankah sikap pamermu ini kesia-sian belaka?!

Andai saja kamu berpikir lebih jauh, bahwa kekayaan orangtuamu ini sesuatu yang fana, yang bisa saja hilang sewaktu-waktu. Alih-alih menghamburkannya, pastinya kamu akan berpikir tentang bagaimana menjaganya. Bisa jadi kamu pun akan berpikir bagaimana caranya supaya uang orangtuamu bisa terus berputar dengan cukup baik.

4. Harta orangtuamu ada sebagai batu loncatan, bukan pijakan akhir dalam proses mengejar kesuksesan

Orangtuamu memang punya kewajiban untuk membiayai atau mencukupi kebutuhanmu, mulai dari sandang, pangan, papan, sampai soal pendidikan. Tapi kamu pun harus paham, jika kewajiban ini ada bukan untuk selamanya. Kewajiban mereka terlepas saat usiamu sudah cukup dewasa untuk berdikari. Kalaupun orangtuamu ini punya harta yang cukup banyak atau lebih, bukankah harusnya kamu menjadikannya batu loncatan alias modal untuk kesuksesanmu?

Kamu bisa menggunkannya untuk membuka usaha pribadimu? Atau mengembangkan usaha yang sudah dirintis oraangtuamu. Setidaknya, jangan sampai kamu berpikir harta orangtuamu ini pijakan akhir dalam pencapaian suksesmu. Sebab kamu tak bisa terus bergantung dengan apa yang dimiliki orangtuamu. Toh setiap orangtua diam-diam ingin melihat anaknya sukses dengan usahanya sendiri. Bukan dari apa yang sudah mereka miliki.

5. Alih-alih pamer cuma buat kesenangan semu, lebih baik kamu bekerja keras demi kepuasan mutlak dirimu

Iya, memamerkan harta orangtua memang memberi kepuasan. Kamu dapat cap anak orang kaya saja sudah bisa bikin hati berbunga-bunga. Tapi coba kamu pikirkan lagi, saat harta orangtuamu tak ada? Mendadak duniamu runtuh, mungkin saja. Karena memang apa yang kamu rasakan selama ini semu belaka. Sementara berbicara kepuasan harus benar-benar sesuatu yang kamu dapatkan sendiri, bukan hasil diberi atau minta dengan orang lain termasuk orang tua.

Jadi, memang harusnya sedari sekarang kamu bekerja keras. Kelak kamu akan rasakan sendiri bagaimana nikmatnya duduk mencicipi hasil keringat yang keluar dari himpitan kesulitan demi kesulitan.

6. Karena patokan kesuksesanmu itu dari hasil yang kamu capai. Entah karir, entah finasial

Jangan cuma bisa gaya. Kamu juga harus punya prestasi yang bisa dibanggakan orangtuamu. Prestasi pun tak melulu soal pendidikan. Tapi bisa juga karir yang baik, atau kemandirian secara finansial. Karena patokan kesuksesanmu tetap saja bukan dilihat dari siapa nama ibu dan bapakmu atau kekayaan orangtua.

Buat apa juga pamer harta orangtua kalau hanya untuk kepuasan dan kebahagiaan sesaat. Apalagi sampai berharap kekayaan orangtuamu ini kelak jadi warisan untuk kamu dan saudara-saudaramu. Pikirkan lagi bagaimana orangtuamu bekerja keras demi mendapatkan itu semua. Apa kamu gak merasa malu, jika sudah sebesar ini masih belum juga paham arti berjuang untuk hidup? Jadi gak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Mulailah berusaha menghargai materi dan bekerja keras untuk mengapai dan memiliki apa yang kamu harapkan. Segala sesuatu tidak ada yang instan, butuh perjuangan, usaha dan doa untuk mendapatkannya. 🙂

 

Source: www.hipwee.com

Photo source: unsplash.com

 } else {