7 Momen Ini Nih yang Paling Ditakuti Pasien Saat Masuk Rumah Sakit

Mendengar kata rumah sakit sendiri saja membuat kita sudah ogah dan tidak ingin untuk pergi ke sana. Karena apa? Ya karena pasti ada beberapa stigma negatif yang muncul sehingga menimbulkan rasa takut dan cemas yang berlebih saat harus dirawat di rumah sakit. Mau tau apa aja ketakutan pasien saat masuk rumah sakit? Ini dia!

1. Ketika akan disuntik.
Sumber: gedubar.com

Banyak orang berfikir ketika masuk rumah sakit, maka dia akan disuntik saat diberikan obat. Padahal tidak semua terapi/pengobatan harus menggunakan jarum suntik untuk memasukkan obat.

Ada banyak cara atau rute untuk memasukkan obat ke tubuh pasien; seperti lewat mulut (oral), diletakkan di bawah lidah (sublingual), dengan cara dioleskan ke permukaan tubuh (topikal), dan selain melalui saluran cerna atau saluran nafas (parenteral).

Pemberian obat dengan cara disuntik merupakan rute parenteral. Obat dapat disuntikkan ke tubuh pasien di 4 tempat yaitu; Subkutan diberikan ke dalam jaringan subkutan di bawah kulit. Intramuskular diberikan ke dalam otot. Intradermal diberikan di bawah epidermis dan intravena diberikan ke dalam pembuluh darah vena.

Dokter akan menginstruksikan terapi injeksi/suntik, jika ada obat yang harus dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui tempat yang disebutkan di atas. Akan tetapi jika obat tersebut tersedia dan bisa dimasukkan dengan cara lain, maka pilihan untuk disuntik  menjadi alternatif terakhir, mengingat disuntik akan menimbulkan rasa sakit pada pasien.

 

2. Saat tangan mau dipasang infus.
Sumber: cancer.org

Ketakutan dan kecemasan pasien juga akan muncul saat pemasangan infus. Apalagi saat melihat jarum infus yang bermata runcing siap ditancapkan ke dalam tubuh pasien. Rasanya waktu cepatlah berputar, atau biarlah tidak sadarkan diri agar proses ini cepat berlalu, begitulah ungkap salah seorang pasien.

Ketakutan ini muncul karena pasien mengira jarum saat penusukkan awal pemasangan infus, ditinggalkan dibawah kulit dalam pembuluh darah vena. Padahal yang tinggal hanyalah pipa kecil sebagai saluran yang tersambung dengan infuse line/ selang infus disebut dengan abocet.

Penggunaan infus ini juga hanya untuk pasien-pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan cairan dalam jumlah banyak. Setelah pemasangan infus, tidak ada rasa sakit sama sekali, hanya saja ada pembatasan gerak pada tempat pemasangan infus tersebut.

 

3. Darah naik dan masuk ke dalam selang infus.
Sumber: mai-heilpraktiker.de

Aku sering dikejutkan oleh teriakan pasien, gara-gara darahnya naik ke selang infus. Biasanya darah naik ke selang infus karena pasien ke kamar mandi, sedangkan pengaturan selang infusnya terbuka. Jadi ketika ada gerakan berlebih, yang memposisikan tangan lebih tinggi dari selang infus, maka darah akan berbalik atau naik ke selang infus.

Keadaan seperti ini tidak perlu dikhawatirkan, karena tidak menimbulkan efek bahaya. Namun perlu tetap diwaspadai bagi pasien yang tidak bisa melihat darah alias mabuk darah. Jadi jika ada keperluan ke kamar mandi, hendaknya pengaturan infusnya di kunci atau ditutup dahulu supaya tidak naik darah. Setelah itu jangan lupa panggil perawat untuk mengatur tetesan infusnya kembali.

 

4. Ambil sample darah pasien.
Sumber: phunuvietnam.vn

Pengambilan sample darah untuk uji laboratorium, juga menjadi hal yang ditakuti oleh pasien. Alasannya takut darahnya habis, apalagi dalam kondisi sedang sakit. Padahal darah yang diambil hanya 5 cc atau 5 ml. Tak jarang pembuluh darah pasien tidak kehilatan saat dipalpasi (raba) atau diinspeksi (dengan kasat mata) lantaran sangking takutnya.

Darah yang diambil bisa dari pembuluh vena atau arteri. Jika darah vena yang dimabil, digunakan untuk mengetahui diagnostik pada beberapa penyakit, melihat komponen-komponen darah vena, dan mengevaluasi terapi yang sudah diberikan. Sedangkan pengambilan darah arteri digunakan untuk pemeriksaan analisa gas darah, yaitu untuk melihat status oksigenasi pasien (tekanan oksigen arterial [PaO2], ventilasi alveolar/tekanan karbondioksida [PaCO2], dan untuk menilai keseimbangan asam basa.

Pemeriksaan darah ini sangat penting dilakukan bagi pasien, karena dari darah inilah bisa diketahui apa yang sedang bermasalah dalam tubuh pasien, sehingga terapi atau pengobatanyapun dapat segera dilakukan. Jadi, tidak perlu cemas darahnya akan habis karena akan digantikan oleh sel-sel darah yang baru.

 

5. Mendengar Hasil Diagnosis Dokter
Sumber: menshealth.com

Rata-rata pasien tidak mau ke rumah sakit atau tidak mau memeriksakan kesehatannya karena takut mendengar hasil diagnosis dokter. Mareka takut nanti akan didignosis menderita penyakit yang mematikan dan menjadi beban pikiran.

Aku pernah berjumpa dengan pasien yang dicurigai tumor payudara. Dokter menyarankan untuk menjalani prosedur pemeriksaan diagnostik seperti, uji labarotorium, CT scan, USG, dan biobsi. Namun sang pasien tidak mau melanjutkan rangkaian prosedur pemeriksaan tersebut karena takut dirinya positif menderita tumor. Beliau mengeluhkan betapa takutnya dirinya sehingga menjadi beban fikran, sampai-sampai berat badannya turun.

Stress yang dialami pasien terhadap penyakit yang dideritanya akan mempercepat proses jalannya penyakit. Bayangkan jika pasien itu terus menunda-nunda pemeriksaan diagnostik, maka dia akan dihantui dengan rasa takut terhadap penyakitnya.

6. Mendengar suara monitor
Sumber: ngnews.org

Suara monitor untuk memantau tanda-tanda vital pasien seperti tekanan darah, kecepatan jantung, pernapasan, suhu, saturasi oksigen yang selalu mengeluarkan bunyi “tinut, tinut, tinut, tinut” juga menimbulkan rasa takut bagi pasien.

Selain berisik suara itu juga membuat bulu kuduk merinding. Biasanya penggunaan monitor seperti ini bagi pasien-pasien gawat yang perlu pemantauan intesif.

 

7. Mendengar berita pasien lain meninggal.
Sumber: biomedya.com

Ketika ada berita seorang pasien meninggal, maka tak jarang akan meimbulkan ketakutan bagi pasien lain. Meskipun tidak diucapkan secara langsung, tapi dapat terlihat dari raut wajah pasien.

Ketakutan ini tidak saja dialami oleh pasien, tetapi juga bagi keluarga pasien lain yang mendengar berita kematian tersebut. Apalagi ditambah dengan isak tangis suara keluarga pasien yang ditinggalkan, membuat suasana tambah mencekam.

 

Sebenarnya masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya yang dialami pasien, namun ketakutan itu hilang jika pasien itu mengerti prosedur, kondisi di RS, dan proses terapi atau pengobatan yang sedang dijalainya. Maka dari itu pasien jangan malu bertanya kepada perawat atau dokter untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas. Karena pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mengetahui prosedur dan tindakan medis yang akan dilakukan kepadanya. Semoga tulisan ini dapat membantu untuk menghapus ketakutan pasien yang telah terkonsep selama ini.

 

Sumber: hype.idntimes.comd.getElementsByTagName(‘head’)[0].appendChild(s);